!-- [ Meta Tag SEO ] --> Kemarau Diprediksi Menguat Mulai Mei, Risiko Konflik Sosial Ikut Membayangi - FOKUS UTAMA

Home Top Ad


 


 


 


 

Selasa, 24 Maret 2026

Kemarau Diprediksi Menguat Mulai Mei, Risiko Konflik Sosial Ikut Membayangi

 


KUNINGAN — Fokus Utama 


Ancaman krisis iklim mulai terasa di Kabupaten Kuningan bahkan sebelum puncak musim kemarau tiba. Suhu udara yang meningkat, tanah yang mulai mengering, serta penurunan debit air di sejumlah wilayah menjadi sinyal awal kondisi yang lebih serius.


Analisis akademisi menyebut tahun 2026 sebagai fase pre-disaster tahap ketika indikator krisis sudah muncul, namun respons belum sepenuhnya optimal. 


Guru Besar Universitas Tanjungpura, Gusti Hardiansyah, menilai kombinasi fenomena El Niño, kemarau panjang, dan pemanasan global berpotensi memperparah kerentanan wilayah, termasuk di Jawa Barat.


Menguatkan hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi bahwa musim kemarau 2026 akan mulai menguat sejak Mei. Curah hujan diperkirakan menurun signifikan hingga Juli, dengan suhu udara cenderung lebih tinggi dari normal dan meningkatnya hari tanpa hujan.


Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan meteorologis yang dapat berkembang menjadi krisis air jika tidak diantisipasi sejak dini.


Lereng Ciremai Jadi Titik Rawan


Wilayah yang menjadi perhatian utama adalah kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Hutan di lereng gunung tersebut selama ini berperan sebagai penyangga utama sistem air di Kuningan.


Kemarau panjang berisiko menurunkan kelembapan hutan, mengeringkan vegetasi, serta meningkatkan potensi kebakaran. Dalam kondisi ekstrem, percikan kecil dapat memicu api yang sulit dikendalikan.


Selain itu, menyusutnya debit mata air mengancam pasokan air bersih dan irigasi pertanian.


KAWALI Ingatkan Potensi Konflik Sosial


Ketua KAWALI DPD Kuningan, Yanyan Anugraha, mengingatkan bahwa krisis air tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga berpotensi memicu konflik sosial.


“Krisis air bisa berkembang menjadi konflik jika distribusinya tidak adil,” ujarnya.


Menurutnya, dalam kondisi kekeringan, kebutuhan air dari sektor rumah tangga, pertanian, dan usaha akan saling berebut. Wilayah yang bergantung pada mata air pegunungan menjadi paling rentan.


Petani diperkirakan menjadi kelompok terdampak paling besar karena berkurangnya pasokan irigasi dapat menurunkan produksi pertanian.


Ancaman Ganda: Kekeringan dan Kebakaran


Kuningan saat ini menghadapi dua ancaman yang saling berkaitan, yakni krisis air dan kebakaran hutan. Kekeringan memperbesar risiko kebakaran, sementara kerusakan hutan akan mempercepat krisis air.


Jika tidak ditangani, dampaknya tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.


Dorongan Kesiapsiagaan

KAWALI mendesak pemerintah daerah dan pengelola kawasan konservasi untuk segera mengambil langkah antisipatif, di antaranya memperkuat deteksi dini kebakaran, memastikan distribusi air yang adil, menjaga kawasan hutan, serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat desa.

Situasi ini dinilai sebagai ujian bagi kepemimpinan daerah. 


Pendekatan reaktif dianggap tidak lagi cukup dalam menghadapi krisis iklim yang semakin kompleks.

Panas 2026 menjadi peringatan nyata.


Di lereng Ciremai, tanda-tandanya sudah terlihat hutan akan mengering, air menyusut, dan potensi konflik mulai muncul.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah krisis akan terjadi, melainkan seberapa siap Kuningan menghadapinya.


(Bopih)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad


 

Pages