KUNINGAN – Fokus Utama
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., menghadiri kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Program Peningkatan Inklusi Keuangan untuk Pemerataan Ekonomi Rakyat (PINTAR) yang digelar di Balai Desa Paninggaran, Kecamatan Darma. Program ini diselenggarakan oleh Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.
Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan para pemangku kepentingan. Turut hadir Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kemenko Perekonomian, Dr. Erdi Riyo, S.E., M.M.; Kepala Pusat Latihan BPSDM Kemendes, Dicky Josephial; Kepala Kantor OJK Cirebon, Agus Muntholib; Direktur RISE Indonesia, Caroline Mangowal, Ph.D.; Asisten Daerah (Asda) I Kabupaten Kuningan, Drs. H. Deniawan, M.Si.; Asisten Daerah (Asda) II Kabupaten Kuningan, Wawan Setiawan, S.Hut., M.T.; para kepala OPD atau yang mewakili; Camat Darma, Deni Rosmayadi; serta Kepala Desa Paninggaran, H. Nasihin.
Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr. Erdiriyo, S.E., M.M., dalam laporannya menyampaikan bahwa Program PINTAR di Desa Paninggaran merupakan bagian dari upaya mendorong kesejahteraan keuangan masyarakat prasejahtera melalui pendekatan kolaboratif lintas kementerian dan lembaga.
Ia menjelaskan, dari data awal terdapat 181 keluarga prasejahtera. Saat ini, sebanyak 161 keluarga menjadi fokus intervensi. Target yang dicanangkan adalah mendorong minimal 10 persen keluarga mengalami “graduasi” atau peningkatan kesejahteraan dalam satu tahun.
“Kesejahteraan keuangan bukan hanya soal akses rekening, tetapi bagaimana masyarakat mampu meningkatkan pendapatan (generating income) serta memiliki ketahanan terhadap guncangan ekonomi,” ujarnya.
Program ini dilaksanakan tanpa alokasi APBN khusus, sehingga mengedepankan kolaborasi berbagai pihak, termasuk OJK, perbankan, lembaga pembiayaan, dan mitra pemberdayaan.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani, S.H., M.Kn., menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mendukung penuh pelaksanaan Program PINTAR.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., disebutkan tidak dapat hadir karena agenda di tingkat provinsi dan menitipkan salam hormat kepada seluruh peserta. Atas nama pemerintah daerah, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan Desa Paninggaran sebagai lokasi penguatan inklusi keuangan.
Ia menekankan bahwa inklusi keuangan tanpa literasi berpotensi menimbulkan persoalan baru, seperti maraknya pinjaman online ilegal dan praktik “bank emok”.
“Kita tidak hanya membuka akses perbankan, tetapi juga harus membekali masyarakat dengan kemampuan mengelola keuangan dan usaha. Jangan sampai akses tersedia, tetapi literasi masih lemah,” tegasnya.
Wakil Bupati juga meminta seluruh perangkat daerah untuk mengesampingkan ego sektoral dan mendukung integrasi kebijakan pusat dengan potensi lokal, khususnya di Kecamatan Darma.
Sementara itu, Direktur RISE Indonesia, Caroline Mangowal, Ph.D., memaparkan hasil pendampingan dan pemetaan terhadap 161 keluarga penerima manfaat (KPM). Sebanyak 64 persen KPM berpendidikan terakhir SD, dan sebagian besar bekerja sebagai buruh, petani, atau pelaku usaha kecil.
Menariknya, 84 persen keluarga sebenarnya memiliki kebiasaan menabung. Namun, sebagian besar masih dilakukan secara informal, seperti melalui tabungan sekolah atau kolektor pribadi. Hanya 26 persen yang memiliki tabungan formal di lembaga keuangan.
Untuk menjawab kendala biaya dan akses, Program PINTAR mendorong penggunaan dompet digital (e-wallet). Dari 60 peserta pelatihan, 59 orang langsung membuka akun e-wallet, sehingga tingkat kepemilikan dompet digital meningkat dari 3 persen menjadi 39 persen.
Selain itu, intervensi juga dilakukan melalui pembukaan akses pinjaman formal seperti PNM Mekaar dan Bumdesma, serta penguatan literasi asuransi dan jaminan sosial.
Salah satu penerima manfaat, Ibu Martini, mengaku terbantu dengan skema pinjaman Bumdesma yang tidak mensyaratkan jaminan serta dilengkapi asuransi jiwa dan BPJS Ketenagakerjaan.
Sementara itu, Ibu Oting, pelaku usaha gas dan kredit karpet, merasakan kemudahan transaksi melalui e-wallet untuk transfer, pembelian token listrik, hingga pengembangan usaha kecil.
Di sisi lain, agen perbankan lokal di Paninggaran mengungkapkan adanya tantangan dalam pengembangan produk tabungan, terutama terkait persepsi biaya administrasi dan regulasi perlindungan data pribadi. Meski demikian, inovasi tabungan kolektif seperti tabungan lebaran dan maulid tetap berjalan dan diminati warga.
Program PINTAR di Paninggaran akan berlangsung hingga semester pertama tahun ini. Jika target graduasi minimal 10 persen tercapai, Kabupaten Kuningan direncanakan menjadi model pembelajaran bagi kabupaten/kota lain dalam penguatan inklusi keuangan berbasis pemberdayaan desa.
Kolaborasi multipihak, pendampingan berbasis data, serta inovasi layanan keuangan yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat desa menjadi kunci keberhasilan program ini.
Dengan semangat sinergi pusat dan daerah, Program PINTAR diharapkan mampu mendorong pemerataan ekonomi yang berkeadilan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat prasejahtera di Kabupaten Kuningan, khususnya di Desa Paninggaran, Kecamatan Nusaherang
(Nia/Bopih)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar