!-- [ Meta Tag SEO ] --> Fiksi ; Misteri Boneka Ajaib Dan Rumah Terbakar - FOKUS UTAMA

Home Top Ad


 


 


 


 

Minggu, 15 Februari 2026

Fiksi ; Misteri Boneka Ajaib Dan Rumah Terbakar



Oleh : Abun Burhanudin 

Semenjak ayahnya meninggal, Alifia terpaksa tinggal kampung halaman ibunya, Maryati, di Desa Cipondok. Tentu saja, sekolahnyapun harus pindah. Dia masuk di kelas VII F SMP Cipondok.


Suatu ketika Ibu Khadijah, wali kelasnya, mengumumkan akan mengadakan study tour untuk mengisi liburan panjang. Semua siswa wajib ikut. Yang tidak bisa ikut akan diberi sangsi, menyusun makalah, membuat kliping, atau sangsi lainnya. 


Semua siswa segera mendaftar, kecuali Alifia dan ketiga temannya, Ani, Euis dan Endang. Mereka termasuk siswi tidak mampu di kelas ini.


Bel pulang berbunyi. Semua siswa keluar. Alifia pulangnya belakangan karena harus menyelesaikan tugas piket di kelasnya. Setelah semuanya beres diapun lalu pulang. 


Alipia benar-benar merasa sedih. Sepanjang jalan diapun terus melamun. 


“Andai saja ayah masih hidup. Pasti aku bisa ikut study tour seperti teman-temanku yang lain,” begitulah dalam benak Alipia saat itu. 


Tapi apalah daya. Sekarang Alifia benar-benar hidup susah. Jangankan untuk ongkos berlibur. Untuk makan sehari-hari saja kadang-kadang sulit.


Karena berjalan sambil melamun, tak terasa jarak ke rumahnya tinggal dua belokan lagi. Saat melewati sebuah rumah besar yang tinggal puing-puing bekas kebakaran, tak sengaja kakinya menginjak sebuah bungkusan hingga dia hampir terjatuh. 


Alifia kaget, penasaran. Lalu mengambil bungkusan itu, dan membukanya. Ternyata sebuah boneka perempuan yang sangat lucu. Alifia tertarik, lalu memasukan boneka itu ke dalam tasnya.


Sesampainya di rumah, Maryati, ibunya, langsung menyuruhnya makan. Tapi Alipia hanya bilang nanti saja. Dia langsung masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintunya. 


Maryarti faham, pasti anaknya sedang punya masalah. Tapi dia tidak berani menegurnya. 


Di dalam kamar, Alifia langsung merebahkan diri ke ranjang. Dia terus melamun, merenungi nasibnya yang selalu susah. 


Tiba-tiba dia teringat pada boneka, lalu membuka tas dan mengambilnya. Di lihat-lihatnya boneka itu. Ternyata benar-benar cantik, dan sepertinya harganya juga mahal. Yang punyanya pasti orang kaya. 


Sambil mengusap-usap rambut boneka, Alifia mengadukan nasibnya. 


“Andai saja aku punya uang banyak. Tentu aku tidak akan merasa sedih seperti ini,” kata Alifia sambil terus memandangi boneka yang sedang dipegangnya.


Beberapa lama kemudian, pintu kamarnya diketuk. Saat dibuka ternyata ibunya membawa sebuah amplop. Katanya, ada yang mengirim amplop ini buat Alifia. Tapi tidak tertera siapa pengirimnya. 


Alipia dan ibunya segera membuka amplop itu, ternyata isinya uang yang lumayan banyak. Alipia dan ibunya heran. Bahkan Alipia sempat merasa takut. 


Alipia enggan menggunakan uang itu. Tapi kata ibunya, itu adalah rijki dari Allah yang tidak diduga-duga. Pakai saja kebutuhanmu. Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Alipia lalu menyimpan uang ke dalam lemari. Sementara ibunya keluar lagi dari kamar.


Alipia terus merenung memikirkan kejadian. Siapa orang yang ngasih uang sebanyak itu. Akhirnya dia teringat, kalau barusan mengeluh sama boneka. Jangan-jangan boneka ini boneka ajaib. Alipia lalu mengambil lagi boneka yang sebelumnya sudah dia simpan di atas meja. Sambil memegang boneka, Alipia meminta sesuatu. Misalnya saja minta kueh atau apa saja.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu rumahnya diketuk. Alipia segera membuka pintu. Ternyata tukang pos membawa paket kiriman. Saat dibuka isinya kueh. Alipia kaget. Dia semakin yakin kalau boneka itu benar-benar boneka ajaib.


Alipia mau bercerita kepada ibunya. Tapi dia mengurungkan lagi niatnya. Ibunya tidak pernah percaya pada takhyul. Pastinya tidak mungkin menanggapi ceritanya. Bahkan bisa-bisa Alipia malah dimarahi. Akhirnya Alipia terpaksa memilih untuk tutup mulut.


Malamnya, Alipia bermimpi. Terjadi sebuah perampokan kejam di sebuah rumah mewah. Pemilik rumah, suami istri dibunuh. Rumahnya kemudian dibakar. Untungnya salah seorang pembantu berhasil kabur dan menyelamatkan bocah perempuan, salah satu anak dari pemilik rumah itu. 


Dalam kejadian itu, Alipia berada diantara mereka. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi anehnya, kobaran api tidak bisa menyentuhnya. 


Alipia bangun dari tidurnya. Mimpi itu benar-benar terasa nyata. Gadis ini tampak ketakutan. Apa arti dari mimpi itu. Alipia turun dari ranjang mau menemui ibunya. Tapi dia berhenti lagi. 


“Percuma saja ibu tidak akan percaya semua ini. Aku tidak akan mendapat jawaban darinya,” Alipia lalu berwudu dan shalat. Sampai pagi dia tidak bisa tidur lagi. 


Paginya Alipia kembali berangkat sekolah. Dia lewat lagi ke rumah besar yang tinggal puing-puing, dimana kemarin dirinya menemukan boneka. 


Alipia berhenti sejenak, melihat keadaan rumah itu. Kok seperti yang ada di dalam mimpinya tadi malam. Alipia benar-benar heran, dan terus termenung. Tak terasa waktu sudah semakin siang. Dia lalu bergegas ke sekolah. Rasa heran terus menghantui fikirannya.


Di kelas, Alipia bercerita kepada Euis, Endang, dan Ani, tentang semua kejadian aneh yang dialaminya, mulai dari menemukan boneka, mendapat kiriman, mimpi seramnya tadi malam, sampai saat dia melihat puing-puing rumah yang keadaannya persis seperti yang di dalam mimpinya.


Ani, Endang dan Euis kaget. Bahkan Ani menyarankan agar Alipia mengembalikan lagi boneka ke tempatnya semula. Rumah itu sangat dikenal angker. Jarang orang yang berani lewat ke tempat itu, karena pasti akan mengalami kejadian aneh. 


Pernah ada beberapa orang yang nekad masuk untuk mencari barang rongsokan, tidak bisa keluar lagi. Adapun yang bisa keluar setelah beberapa hari, langsung gila.


Alipia penasaran. Kenapa bisa sampai begitu? Ani menjawab, bahwa ayahnya pernah bercerita. Dulu penghuni rumah itu adalah orang yang paling kaya di kampung ini. Mereka adalah warga pendatang. Namanya Pak Firuz, dan Istrinya, Bu Hapsah. Mereka punya seorang anak perempuan kecil bernama Nabila. Nabila selalu diasuh oleh pembantunya bernama Bi Puri.


Suatu malam terjadi perampokan. Pak Pairuz dan Bu Hapsah dibunuh. Rumahnya dibakar. Untungnya Bi Puri berhasil menyelamatkan Nabila dan membawanya kabur. Tapi anehnya, mayat bu Hapsah tidak ditemukan saat warga mau menguburkannya. 


Alipia makin merasa heran. Kenapa kisah yang diceritakan Ani sama persis dengan apa yang dialaminya dalam mimpi. Hanya bagian akhirnya saja yang tidak dia ketahui, karena keburu bangun dari tidurnya. 


Alipia lalu bertanya, kemana Nabila dan bi Puri sekarang? Jawab Ani, tak seorangpun yang tahu dimana keberadaan mereka sekarang.


Sepulang dari sekolah, Alipia masih terus memikirkan peristiwa yang dialaminya. Ibunya heran. Tapi Alipia tidak mau terus terang. Alipia masuk kamar, lalu mengambil boneka. Dalam benaknya terus muncul banyak pertanyaan. Apakah benar boneka ini berasal dari alam gaib? Tapi, sebagian hati Alipia tetap tidak percaya. Tidak mungkin ada hubungan antara arwah yang sudah meninggal dengan manusia yang masih hidup. 


Tiba-tiba Alipia teringat pada omongan Ani agar mengembalikan lagi boneka ke tempatnya. Alipia lalu diam-diam keluar rumah untuk mengembalikan boneka.    


Alipia sampai di tempat dimana dia menemukan boneka. Tidak seperti sebelumnya, entah kenapa kali ini dia merasakan adanya aroma takut dalam dirinya. Bulu kuduknya terasa merinding. Dengan sangat hati-hati dia menaruh boneka di tempatnya semula. 


Alipia mau buru-buru pergi karena dia semakin merasakan adanya hawa aneh. Tapi tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggilnya dari belakang. Alipia takut campur penasaran. Dia lalu menengok. Ternyata seorang ibu, berwajah cantik, berpakaian mewah tengah berdiri di dekat pintu rumah kosong. (Puing-puing terbakar). 


Alipia benar-benar ketakutan. Mau kabur, tapi kakinya terasa lemas. Bahkan saking takutnya diapun jatuh pingsan.


Alipia akhirnya sadar dari pingsannya. Alangkah kagetnya dia karena ternyata berada di sebuah kamar yang sangat rapih dan indah, banyak hiasan dindingnya seperti di dalam rumah mewah. Alipia mau bangun. Tapi tiba-tiba si ibu yang tadi muncul lagi. 


“Jangan bergerak dulu, nak. Kamu baru sadar dari pingsan.” Kata si Ibu sambil menyodorkan segelas air. 


Tapi Alipia kembali ketakutan. Si Ibu mengerti. Dia bilang agar Alipia jangan takut, karena dia tidak punya maksud jahat. Rasa takut Alipia mulai hilang. 


Akhirnya diapun mau minum yang disodorkan oleh si ibu tersebut.

Alipia penasaran. Siapa ibu ini sebenarnya. Si Ibu menjawab, kalau dirinya adalah Hapsah. Alipia kembali kaget, takut. Bukannya ibu sudah meninggal seperti yang dikatakan banyak orang? Si Ibu lalu tersenyum dan menjawab, itu hanya sangkaan mereka saja, nak. Untuk meyakinkan Alipia, Hapsah lalu bercerita.


Cerita alwalnya sama dengan yang di dalam mimpi Alipia juga cerita dari Ani, yakni tentang terjadinya perampokan di sebuah rumah. Tapi di akhir cerita, Hapsah bilang kalau dirinya berhasil menyelamatkan diri.


Alipia masih penasaran. “Tapi kenapa ibu tetap membiarkan gosip yang beredar di masyarakat, terutama tentang rumah ini yang berhantu?”


Sambil tersenyum Hapsah menjawab, bahwa dirinya sengaja membiarkan semua itu, untuk menjaga harta karun yang dikubur oleh suamianya di dalam rumah. Hanya harta itu yang bisa diwariskan kepada Nabila putri kesayangannya satu-satunya. Sayangnya, dia tidak tahu Nabila ada di mana. 


Alipia merasa kasihan. Dia berjanji akan membantu Bu Hapsah untuk mencari Nabila.


Alipia mau pulang, tapi masih punya pertanyaan yang belum terjawab, yakni tentang boneka. Jawab Bu Hapsah, Boneka itu adalah kesayangan Nabila. Dia tak sengaja menjatuhkannya di jalan. “Tapi kenapa boneka itu seperti ajaib, bisa mengabulkan apa saja yang diinginkan oleh saya, “ tanya Alipia lagi. 


Sambil tersenyum Hapsah menjawab lagi, Itu kebutulan saja. Alipia anak baik. Jadi Allah mudah memberinya rijiki. Alipia belum puas dengan jawaban itu. Tapi tidak ingin banyak bertanya. 


Akhirnya diapun pamit pulang. Bu Hapsah mempersilahkan, dan mengantarkannya sampai pintu.


Alipia sudah berada di jalan. Dia penasaran menengok ke rumah tadi. Ternyata rumah tadi kembali terlihat seperti puing-puing. Alipia benar-benar heran, tak mengerti dengan apa yang dialaminya.



Alipia sudah berada lagi di rumahnya. Ibu Maryati menegurnya kesal, karena Alipia pergi tanpa bilang-bilang. Alipia beralasan kalau dia barusan dari rumah temannya ngerjain peer. Alipia minta maaf karena tidak sempat pamit pada ibunya, karena terburu-buru. 


Ibu Maryati memaklumi, tapi lain kali harus bilang dulu kalau mau pergi. Alipia hanya mengangguk.


Paginya di sekolah, Alipia menceritakan lagi pengalamannya kepada Ani, Euis dan Endang. Ani tak percaya mendengar Bu Hapsah masih hidup. Katanya, tidak mungkin. Dia pasti hantunya. Alipia meyakinkan kalau Bu Hapsah benar-benar masih hidup. Dia sengaja membiarkan gosip hantu untuk menjaga harta karun di rumah itu. Sebab harta itu satu-satunya warisan buat Nabila. 


Endang dan Euis pensaran. Gimana kalau kita main ke rumah itu. Alipia setuju. Sepulang sekolah mereka berencana main ke rumah tua (Bu Hapsah). 


Sementara itu, diam-diam 3 orang anak laki-laki, Husen, Jarot, dan Rahman, menguping pembicaraan mereka. Ketiga anak nakal itu merasa tertarik dan ingin mencuri harta karun, seperti yang dicertakan Alipia.


Siangnya sepulang sekolah, Alipia, Ani, Euis dan Endang main ke rumah tua (Bu Hapsah). Ani Euis dan Endang nampak merasa ragu-ragu. Semakin dekat ke rumah, mereka semakin ketakutan. Ani mengajak lagi pulang. Tapi kata Alipia tidak akan terjadi apa-apa. Rasa takut kalian, hanya perasaan kalian saja. Di sini tidak ada hantu.


Alipia lalu masuk ke dalam rumah. Bilang permisi dan memanggil-manggil Bu Hapsah. Namun, tak seorangpun yang menjawab. Ani semakin merasa takut dan mengajak lagi Alipia untuk pulang. Tapi, Alipia tetap saja masuk. Ani dan yang lainnya terpaksa mengikutinya. 


Di sini terjadi keanehan. Ani, Euis dan Endang merasa sulit untuk berjalan. Yang mereka lihat, semuanya hanyalah puing-puing. Banyak kayu berserakan, bekas tembok yang roboh. Bahkan banyak juga sarang laba-laba. Hal ini membuktikan kalau rumah ini sudah lama tak tersentuh oleh orang. 


Tapi anehnya, Alipia seperti bisa berjalan bebas tanpa hambatan. Seolah-olah dia tidak melihat kayu-kayu berserakan ataupun bekas reruntuhan tembok. Ani dan yang lainnya akhirnya tertinggal di belakang. Sedangkan Alipia entah sudah ada di mana. 


Ani, Euis dan Endang terus berusaha mengejar Alipia. Tapi semakin ke dalam rumah, mereka semakin dihadapkan kepada keanehan-keanehan, dan rasa takut. Misalnya saja pintu tiba-tiba tertutup dan sulit lagi dibuka. Melihat laba-laba aneh dan besar, atau apa saja. Pokoknya hal-hal yang benar-benar membuat mereka ketakutan.

Beda halnya dengan Alipia. Dia malah merasa di dalam rumah mewah. Alipia terus memanggil-manggil Bu Hapsah. Ternyata Bu Hapsah sedang berada di ruang makan. Bu Hapsah senang dengan kedatangan Alipia. Dia lalu mengajak Alipia makan bareng. Tapi kata Alipia, dia datang bersama teman-temannya. 


“Baiklah.. kita tunggu saja mereka. Nanti kita makan bareng sama mereka,” kata Bu Hapsah.


Tapi setelah lama menunggu. Ani dan yang lainnya tidak muncul juga. Alipia mulai cemas. Bu Hapsah faham. Lalu mengajak Alipia mencari Ani dan yang lainnya. Setelah agak lama mencari, ternyata Ani dan yang lainnya ditemukan sedang pada pingsan di dapur.


Bu Hapsah lalu menolong mereka dengan memberi minuman. Ani dan yang lainnya akhirnya bangun. Mereka kembali ketakutan. Tapi Bu Hapsah bilang, kalau dia bukan orang jahat. 


Aneh bin ajaib. Rumah yang tadinya terlihat hanya puing-puing, kini tampak oleh Ani dan yang lainnya seperti rumah mewah.


Ani dan yang lainnya heran, bertanya. Bu Hapsah menjawab. Apa yang kalian alami tadi hanyalah halusinasi, sebab diantara kalian ada yang punya niat jelek, mencuri boneka. Endang minta maaf. Dia mengakui kalau sebenarnya tujuan utamanya ke mari untuk mencuri boneka. Bu Hapsah memaafkan karena Endang sudah mau berterus terang mengaui kesalahannya.   


Bu Hapsah mengajak Alipia dan yang lainnya ke sebuah ruangan. Katanya, dia ingin memperlihatkan sesuatu. Anak-anak segera mengikutinya. Ternyata di dalam ruangan itu ada sebuah benda seperti televisi. Bu Hapsah segera menyalakannya. Tampak televisi itu memunculkan gambar, dimana Husen, Rahman, dan Jarot, sudah berada di dalam rumah. 


Seperti yang pernah dialami oleh Ani dan yang lainnya, Husen dan yang lainnya dihadapkan kepada hal-hal yang menakutkan. Melihat kelebat bayangan atau apa saja. Semula mereka ketakutan, dan mau kabur lagi. Tapi karena didorong oleh niat jahat yang besar untuk mencuri harta karun. Husen dan yang lainnya bisa mengalahkan rasa takutnya.


Akhirnya Husen sampai ke sebuah rungan. Mereka yakin kalau harta karun ditanam di ruangan ini. Husen dan yang lainnya segera menggali. Ternyata benar. Di dalam lubang tersimpan harta karun. Husen dan yang lainnya merasa senang, dan segera mau mengambil harta itu. Tapi tiba-tiba pintu ruangan tertutup dan menjadi gelap. Tak ada jalan keluar. Husen cs terkurung di rungan itu.


Alipia merasa kaget, bertanya kepada Bu Hapsah. Sampai kapan Husen, Jarot dan Rahman, akan terkurung di sana. Kata Bu Hapsah, sampai mereka mati. Alipia merasa kasihan dan meminta Bu Hapsah untuk membebaskan mereka. Jawab Bu Hapsah, baiklah aku akan membebaskan mereka, tetapi dengan syarat, kalian harus membantuku dulu menemukan Nabila. Alipia dan yang lainnya setuju. Tapi gimana aku bisa mengenal Nabila? Bu Hapsah memperlihatkan photo Nabila sewaktu kecil. Alipia mengangguk. 


“Baiklah.. kami akan membantu mencari Nabila”


Selanjutnya kita perlihatkan Alipia, Ani, Endang, dan Euis mencari-cari Nabila ke mana-mana. Tapi walaupun mereka terus mencarinya tetap tidak menemukannya juga. Endang mulai putus asa. 


“Bagaimana mungkin kita bisa menemukan Nabila. Kita hanya tahu wajah Nabila saat masih kecil dari potonya. Kalaupun masih hidup sekarang wajah Nabila pasti sudah berubah, kita tidak mungkin menemukannya.” Kata Endang. 


Ani juga bilang, kalau pencariannya pasti sia-sia. Tapi kata Alipia, gimana dengan naib Husen dan yang lainnya? Jawab Euis, biarkan saja. Mereka pantas mendapatkan hukuman itu, karena sudah punya niat jahat.


Alipia tetap merasa kasihan sama Husen dan yang lainnya. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Akhirnya anak-anak itupun terpaksa pulang.


Alipia sedang bersih-bersih di kamar ibunya. Tak sengaja dia menemukan photo di dalam sebuah peti. Poto itu mirip dengan poto Nabila yang diperlihatkan oleh Bu Hapsah. Alipia penasaran mencari Bu Maryati, lalu menanyakan tentang photo itu. Bu Maryati kaget, lalu menanyakan darimana Alipia menemukan photo itu. Jawab Alipia dari dalam peti, kok photonya mirip dengan photo Nabila. 


Maryati makin tampak kaget mendengar Alipia menyebut-nyebut nama Nabila. 


“Darimana kamu tahu nama Nabila, nak?” Alipia lalu mencerikatakan semua kejadian yang dialaminya.


Bu Maryati memeluk Alipia. Dia ahirnya berterus terang kalau sebenarnya Alipia adalah Nabila, anak Ibu Hapsah. Alipia kaget, tak percaya. 


Bu Maryati akhirnya bercerita, kalau dulu dirinya mengambil Nabila dari Bi Puri, kakaknya, yang sudah tua dan sakit-sakitan. Bu Maryati lalu mengangkat Nabila sebagai anak, dan mengganti namanya menjadi Alipia.


Tapi sekarang Bu Maryati merasa heran, mendengar Bu Hapsah masih hidup, sebab berdasarkan cerita Bi Puri, Bu Hapsah sudah lama meninggal akibat dibunuh oleh para perampok. 


Tidak, kata Alipia, Bu Hapsah sekarang masih hidup. Dia sengaja membiarkan gosip itu untuk menjaga harta karun yang dikubur suaminya di dalam rumah.


Bu Maryati belum yakin benar. Akhirnya Alipia mengajak Bu Maryati ke rumah puing-puing. Sesampainya di sana, Bu Hapsah san

gat merasa senang. Dia bilang, sebelumnya dia sudah menduga kalau Alipia adalah anak kesayanganya. Tapi dia tidak berani mengatakan karena tidak ada bukti.


Selesai…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad


 

Pages