Oleh :Abunn Burhanudin
ANDI, seorang Mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi Swasta ternama. Setiap hari dia selalu berangkat kuliah dengan mobil kebanggaannya. Namun sebenarnya dia jarang sekali mengikuti perkulian.
ANDI lebih suka nongkrong bareng TEDDY, sahabat kentalnya dan juga teman-teman lainnya di Cafe sekitar kampus, atau mengganggu cewek-cewek cantik. Sikapnya yang tengil dan sok pamer kekayaan bagi Mahasiswa di kampusnya seperti sudah jadi mahfum adanya. Jika ada tugas kuliah, ANDI tinggal nyuruh orang lain mengerjakannya, dengan sedikit ancaman tentunya.
Tak ada satupun yang berani menegurnya. ANDI berpendapat kalau kuliah tuh nggak penting, tokh kekayaan ayahnya yang pengusaha sukses dan terkenal itu nggak bakalan habis dimakan tujuh turunan. Dengan uang, segala sesuatu yang diinginkan bisa diperoleh dengan mudah.
Padahal Pak SUGIHARTO, papanya sangat berharap agar kelak ANDI bisa meneruskan bisnisnya. Demikian pula dengan bu HANIFAH sang Mama, berharap ANDI bukan hanya bisa meneruskan bisnis keluarga, tapi juga kelak bisa menjadi konglomerat yang beriman. Sayang harapan sang bunda tak pernah terwujud.
Walau begitu, bu HANIFAH tak pernah lelah untuk terus menasihati dan mengingatkan agar ANDI jangan pernah meninggalkan sholat. Bukan hanya terhadap ANDI, pada suaminya pun bu HANIFAH selalu mengingatkan akan pentingnya sholat. Karena menurutnya, sholat selain sebagai tiangnya agama juga sebagai ciri utama seorang muslim yang beriman pada ALLAH, SWT. Akan tetapi jangankan melangkahkan kaki ke Masjid, menggelar sajadah di kamarnya sendiripun tak pernah dilakukan oleh ANDI maupun Pak SUGIHARTO.
Alasan yang dilontarkan keduanya selalu sama, “sebentar lagi”, atau “nanti tokh waktunya masih panjang”. Namun sampai habis waktunya, sholat tak pernah mereka lakukan.
Berbeda terbalik dengan ANDI, justru MAYA, sang adik jika hari libur sangat suka berlama-lama berada di Masjid. Kebetulan pula MAYA termasuk salah satu pengurus IRMAS (Ikatan Remaja Masjid) yang ada di komplek perumahan, dimana Ustad ANSHORI sebagai pembinanya. Dari Ustad ANSHORI pulalah, MAYA banyak mendapat petuah-petuah dan ilmu agama.
Suatu ketika MAYA heran dan kaget bukan kepalang melihat kakaknya itu pergi ke Masjid bersama sahabatnya, TEDDY. Ternyata perginya ANDI ke masjid itu bukan atas kesadaran sendiri, melainkan karena ada sesuatu yang diinginkan dari orang tuanya. Dan sang Mama baru mau meluluskan keinginannya itu jika ANDI mau ke Masjid.
Namun sayang, bukannya sholat atau membaca Al-Qur’an, ANDI dan TEDDY malah membuat kegaduhan, sehingga membuat MAYA dan teman-temannya yang sedang mendengar tausiyah dari Ust.ANSHORI jadi terganggu. FIKRI, sebagai Marbot menegurnya dengan baik-baik. ANDI nggak terima bahkan malah marah dan menantang FIKRI. Hampir saja terjadi keributan, untung Ust.ANSHORI segera melerai.
MAYA pun jadi malu dan memarahi kakaknya. Baru setelah dinasihati sang Ustad, akhirnya ANDI dan TEDDY mau pergi.
Bersama TEDDY, ANDI bukannya langsung pulang malah berkeliling kota dengan mobilnya. Setelah dirasa cukup baru pulang dan bilang kalau dirinya habis dari Masjid sesuai keinginan sang Mama. MAYA yang mendengarnya kaget dan ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi keburu diancam oleh ANDI.
Sejak kejadian di Masjid malam itu, ANDI semakin benci melihat orang-orang yang datang ke Masjid untuk sholat. Bahkan jika mendengar suara adzan, ANDI selalu marah-marah sambil menutup kedua telinganya.
Tidak berhenti sampai di situ, ANDI pun mulai melakukan teror secara pengecut (secara hit and run), seperti misalnya melempar kaca masjid, membakar petasan, dan lain sebagainya sehingga orang-orang yang sedang sholat berjama’ah jadi kaget dan tidak khusyu’.
MAYA bukannya tidak tahu kalau semua itu pasti ulah kakaknya, tapi dia diam saja karena merasa malu. Baru setelah pulang ke rumah, Maya menegurnya. Tapi ANDI tidak mau mengakui semua tuduhan itu.
ANDI juga masih menyimpan dendam pada FIKRI. Kebenciannya pada pemuda itu semakin membuncah ketika dilihatnya FIKRI semakin dekat dengan MAYA. Dan ternyata diam-diam, adiknya itu mencintainya.
ANDI pun lantas melaporkannya pada papanya. Tentu saja Pak SUGIHARTO marah besar dan melarang MAYA bergaul dengan pemuda yang jadi marbot masjid tersebut. Dan ketika FIKRI datang ke rumahnya untuk keperluan urusan IRMAS, Pak SUGIHARTO malah memarahinya, melecehkannya bahkan sampai tega mengusirnya dengan kata-kata kasar. MAYA yang mendengarnya hanya bisa menangis sedih. Sedangkan ANDI tertawa senang.
Ternyata semua yang telah dilakukannya terhadap FIKRI tak membuat ANDI puas. Dia pun menghasut TEDDY, sahabatnya itu yang diketahuinya kemudian kalau diam-diam juga menyukai MAYA. ANDI pun memanas-manasi TEDDY agar menyingkirkan FIKRI, kalau perlu menghabisinya sekalian.
Kesempatan itu akhirnya mereka dapatkan. ANDI dan TEDDY melihat FIKRI tengah jalan sendiri. Dengan memakai cadar agar tidak ketahuan, ANDI dan TEDDY mencegat dan menghajarnya. Untungnya kejadian itu dipergoki oleh beberapa warga yang kebetulan melintas. ANDI dan TEDDY kabur.
MAYA yang mendapat kabar tentang kejadian yang menimpa FIKRI segera menemui pemuda itu. MAYA bertanya apa ini ulah kakaknya. FIKRI bilang tidak tahu dan tidak kenal siapa yang menyerangnya. Padahal waktu itu dia sempat menarik cadar ANDI sehingga wajahnya terlihat.
Biarpun FIKRI tak mau ngaku, tapi MAYA sangat yakin kalau ANDI lah yang telah melukainya. MAYA pun segera menemui kakaknya dan memarahinya. Tapi lagi-lagi ANDI tak mau mengakui perbuatannya, bahkan menantang agar MAYA menunjukkan bukti kalau dirinya yang melukai FIKRI.
Dengan penuh kemarahan MAYA bilang bahwa “ALLAH LAH YANG AKAN MEMBUKTIKAN SEMUANYA..! DAN SEBAIKNYA KAKAK BERTOBAT SEBELUM ALLAH MENURUNKAN AZAB..!” Namun bagi ANDI, ancaman adiknya itu hanya dianggap isapan jempol belaka.
Pada suatu ketika, seorang dosen menugaskan para Mahasiswa untuk melakukan survey tentang pola perekonomian rakyat. Mau tidak mau ANDI terpaksa mengikutinya, karena ini merupakan mata kuliah wajib. Tapi ANDI tak mau naik bus bersama rombongan. Dia lebih memilih memakai kendaraannya sendiri. Sebelum berangkat bu HANIFAH, kembali mengingatkan ANDI agar jangan lupa sholat.
Seperti biasa, bukannya serius mengikuti kegiatan survey, ANDI dan TEDDY lebih banyak santai dan bermain-main saja. Dan ketika terdengar suara adzan berkumandang, teman-temannya bergegas untuk mencari masjid.
Tapi ANDI dan TEDDY menolak ikut dengan berbagai alasan. Mereka berdua malah mandi di sungai/telaga. Disaat tengah asyik berenang tiba-tiba ANDI mengalami kram dikedua kakinya. Akibatnya ANDI tenggelam. Melihat itu TEDDY panik dan berusaha mengangkat tubuh ANDI dari dasar sungi/telaga, tapi mengalami kesulitan.
Disaat kritis tiba-tiba ANDI mendengar suara Mamanya yang mengingatkannya agar segera sholat. Sebenarnya pada saat yang bersamaan, bu HANIFAH sedang sholat. Dan ketika sujud dia seperti mendengar suara ANDI yang memanggilnya dan tanpa sadar, bu HANIFAH seperti bicara menyuruh anaknya itu untuk segera sholat.
TEDDY yang berusaha mengangkat tubuh ANDI yang mulai lemas mengalami kesulitan. Tiba-tiba muncul seseorang yang entah dari mana asalnya dan langsung menolongnya, sehingga ANDI pun selamat. Belum sempat mengucapkan terima kasih, sang penolong telah pergi entah kemana.
Tapi sebelum pergi orang itu sempat mengingatkan agar mereka segera sholat sebelum waktunya habis. TEDDY mulai merasa kalau kejadian barusan adalah teguran buat mereka yang selalu melalaikan sholat. Maka TEDDY pun segera memakai pakaiannya dan sholat saat itu juga dengan beralaskan syal/jaket yang dipakainya.
Sedangkan ANDI cuek aja, tetap tak mau sholat dan menganggap orang yang menolongnya tadi mungkin kebetulan lewat.
Setelah TEDDY selesai sholat, ANDI mengajak TEDDY pulang tanpa mempedulikan cegahan teman-teman mereka karena kegiatan belum selesai.
Selama dalam perjalanan, TEDDY yang mulai sadar, kembali mengingatkan soal kejadian yang baru mereka alami sebagai teguran. ANDI jadi kesal dan marah, lalu melajukan mobil sekencangnya hingga melewati tikungan tajam. Tanpa diduga dari arah berlawanan muncul truk besar. Tak ayal lagi tabrakan maut pun tak bisa dihindarkan. TEDDY terpental keluar, sedangkan ANDI masih tetap berada dalam mobilnya yang hancur.
Setelah mendengar semua kisah yang diutarakan bu HANIFAH, MAYA dan juga TEDDY yang datang walau dengan menggendong tangannya yang patah, Ust.ANSHORI pun jadi mengerti apa yang menyebabkan kawanan ular itu selalu ada dalam liang lahat yang diperuntukkan buat ANDI. Itulah balasan orang yang selalu meninggalkan sholat sampai akhir hayatnya hingga masuk ke liang kubur. Akhirnya jasad ANDI tetap dikubur bersama kawanan ular yang telah menunggunya.
Ketika proses pemakaman selesai, Ust.ANSHORI, MAYA, Pak SUGIHARTO dan juga TEDDY kaget mendengar suara teriakan ANDI dari dalam kubur. Teriakan kesakitan yang amat mengerikan.
Atas kejadian itu, Pak SUGIHARTO dan juga TEDDY berjanji pada diri mereka sendiri untuk tidak pernah lagi melalaikan sholat. Dan TEDDY pun meminta maaf pada FIKRI karena pernah melukainya serta merelakan MAYA untuknya.
S E L E S A I








Tidak ada komentar:
Posting Komentar