!-- [ Meta Tag SEO ] --> Air Disedot, Ekosistem Sekarat - FOKUS UTAMA

Home Top Ad


 


 


 


 


 


 

p> 

 


Minggu, 01 Februari 2026

Air Disedot, Ekosistem Sekarat



Kuningan-Fokus Utama

Kematian ikan dewa di Balong Cigugur kembali membuka persoalan mendasar dalam pengelolaan air baku: ketika kepentingan layanan mengalahkan daya dukung ekosistem.

Tokoh Pemuda Marhaen Jawa Barat, Iwa Gunawan, menilai peristiwa ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan akibat dari praktik pengambilan air yang melampaui batas kewajaran ekologis. 

Air diambil langsung dari sumber mata air, bukan dari aliran turunan yang semestinya berfungsi sebagai penyangga kehidupan balong.

Padahal, dalam kerangka hukum nasional, air tidak diperlakukan semata sebagai objek ekonomi. Undang-Undang menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya air wajib menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup sebagai prasyarat utama.

Menurut Iwa, persoalan diperparah dengan pembangunan sumur penampung yang lebih dalam dari kolam, sehingga ketika debit dinaikkan, air balong ikut tersedot. 

Di saat yang sama, input air ke kolam dikurangi bahkan dicor, pintu output dipersempit, dan pintu air dihilangkan. Sirkulasi terputus.

“Air tidak lagi mengalir alami. Kolam dipaksa menyesuaikan kepentingan teknis,” kata Iwa.

Dalam kondisi hujan tinggi, ikan dewa mengalami stres hingga mabok karena kehilangan akses ke aliran air segar. Pada musim kemarau, ikan tampak lemas dan tidak agresif—indikasi kualitas air yang menurun drastis.

“Setiap hari selalu ada ikan yang mati. Ini sudah menjadi pola,” ujarnya.

Secara normatif, hukum lingkungan hidup juga menempatkan pencegahan kerusakan sebagai kewajiban, bukan pilihan. Ketika perubahan fisik pada kolam dan sumber air menghilangkan ruang hidup biota, maka tanggung jawab pengelola tidak lagi dapat disederhanakan sebagai risiko operasional.

Namun, orientasi PDAM yang terus mengejar penambahan titik sambungan pelanggan membuat prinsip kehati-hatian itu memudar. Air diperlakukan sebagai angka produksi, bukan sebagai sistem kehidupan.

“Hawek teuing PDAM-na. Air diperas tanpa memikirkan batas,” kata Iwa.

Jika praktik ini terus berlangsung, Balong Cigugur hanya tinggal menunggu waktu. Bukan hanya ikan dewa yang terancam, melainkan fungsi sosial dan ekologis sumber air yang seharusnya dijaga negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.


(Rokhim Wahyono)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Hubungi Zulhisbi WA no +62 852-2494-4409

 

Pages