!-- [ Meta Tag SEO ] --> Kebijakan LGBT di Bawah Kabut Ciremai - FOKUS UTAMA

Home Top Ad


 


 


 


 


 


 

p> 

 


Minggu, 25 Januari 2026

Kebijakan LGBT di Bawah Kabut Ciremai

Dongeng Mang Ucup

Oleh : Rokhim Wahyono 


Arunika berdiri anggun di Palutungan, di lereng Gunung Ciremai, seperti lukisan yang salah bingkai. Cantik, tapi keliru tempat. Di atas tanah yang oleh Perda RTRW disebut zona resapan air,tanah yang seharusnya lebih banyak mendengar doa petani daripada denting gelas kopi wisatawan ,bangunan itu justru menjulang dengan arsitektur negeri Sakura asal artis Miyabi atau Maria Ozawa dan Kakek Sugiono, asing bagi ingatan Sunda yang sejak lama akrab dengan bilik bambu dan atap julang ngapak.

Tak jauh dari sana, di sebuah warung kopi kecil yang menghadap kabut sore, lima orang duduk melingkar: Asep, Ujang, Maman, Teti, dan Ucup. Kopi hitam mengepul, debat pun ikut mendidih.

“Kalau dibaca baik-baik,” kata Ucup sambil meniup permukaan cangkirnya, “Perda RTRW sama Perbub Induk Pariwisata itu sudah bagus. Rapi. Ideal. Bahkan petani dijanjikan air untuk irigasi. Indah di atas kertas.”

Ujang tersenyum miring. Tawa kecilnya terdengar getir.

“Indah, Mang. Tapi cuma buat dibingkai dan dipajang di dinding kantor. Bukan buat dijalankan.”

Asep mengangguk pelan. “Regulasi di Kuningan mah unik. Punya dua wajah. Kalau di rapat, tegas. Kalau di lapangan, luwesnya kebangetan.”

Teti, satu-satunya perempuan di meja itu, menimpali, “Jadi yang salah regulasinya atau orangnya?”

Ujang mencondongkan badan. “Nah, itu dia. Aturannya kelihatannya lurus, tapi pelaksananya bengkok. DPRD dan eksekutif itu seperti pasangan yang hubungannya nggak jelas—kadang ngaku beda, kadang merasa sama. Siang hari saling mengawasi, malam hari berpelukan atas nama kepentingan.”

Maman terkekeh. “Makanya aku bilang, kebijakan kita itu LGBT.” semua menoleh.

“Labil, Ganda, Bingung, dan Terselubung,” lanjut Maman cepat, sebelum salah paham merambat. “Bukan soal orientasi manusia,ini soal orientasi kekuasaan.”

Ucup menghela napas panjang. “Jadi Arunika itu apa?”

Ujang menjawab tanpa ragu, “Anak adopsi. Lahir dari hubungan gelap antara pasal dan kepentingan. Secara hukum diakui, tapi asal-usulnya disembunyikan.”

Mereka terdiam. Dari kejauhan, Arunika berkilau diterpa lampu senja. Indah, tapi memantik luka. Air di sawah Cigugur mulai berkurang, petani mengeluh, dan protes perlahan tumbuh seperti retakan di dinding gedung megah.

“Yang bikin sakit,” kata Teti lirih, “bukan karena wisata itu ada. Tapi karena aturan diperkosa oleh mereka yang seharusnya menjaganya.”

Asep menutup pembicaraan dengan pahit, “Selama Gedung Dewan dan Kantor Bupati lebih sibuk bercermin satu sama lain daripada menatap Perda yang mereka buat sendiri, jangan heran kalau rakyat cuma kebagian bayangan, bukan manfaat.”

Kopi habis. Senja turun. Dan di antara kabut Ciremai, regulasi tetap berdiri,resmi, sah, tapi sendirian.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Hubungi Zulhisbi WA no +62 852-2494-4409

 

Pages