Penulis Mulyadi PJS 

Gambar Hanyalah Ilustrasi 


KUNINGAN — FOKUS UTAMA 

Ia berangkat bukan untuk berkelahi. Namun sore itu, Muh Nur Ramadhan (15), siswa SMPN 2 Jalaksana, justru pulang ke rumah dalam kondisi nyaris tak berdaya.

Tubuhnya lemas. Kepalanya mengalami luka parah. Bahkan sesampainya di rumah, remaja itu jatuh dan pingsan.

Yang lebih memilukan, remaja tersebut diduga baru saja menjadi korban penganiayaan oleh KN (18), oknum siswa salah satu SMK swasta di Kota Kuda, bersama sejumlah temannya.

Persoalannya diduga sepele: cemburu dan rebutan perempuan. Namun akibatnya tidak sepele.

Mengutip Inilah Kuningan, Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 15.30 WIB. KN bersama temannya tiba-tiba mendatangi rumah Muh Nur Ramadhan di RT/RW 09/04 Blok Cantilan, Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana.

Korban kemudian diajak menuju Objek Wisata Balong Dalem, Desa Babakan Mulya. Di tempat itulah suasana berubah menjadi petaka.

Sejumlah teman KN ternyata sudah berada di lokasi. Korban diduga langsung dianiaya. Pukulan berkali-kali diarahkan ke kepala dan dada.

Tak berhenti dengan pukulan, korban juga diduga diinjak-injak. Ironisnya, aksi kekerasan tersebut berlangsung di hadapan sejumlah teman pelaku.

Bukan pertolongan yang datang lebih dulu. Dugaan penganiayaan justru terus berlangsung hingga korban tak berdaya.

Dalam kondisi tersebut, Muh Nur Ramadhan kemudian diantar kembali ke rumahnya menggunakan sepeda motor oleh pelaku. Sesampainya di rumah, pelaku langsung pergi.

Keluarga korban yang melihat kondisi Muh Nur Ramadhan sontak panik. Remaja itu turun dalam keadaan lemas. Tak lama kemudian, ia pingsan.

Keluarga segera membawanya ke RSUD Linggajati. Namun kondisi luka di bagian kepala cukup parah sehingga korban harus dirujuk ke RSUD 45 Kuningan.

Di rumah sakit, luka yang dialami korban ternyata bukan luka ringan. Muh Nur Ramadhan harus menjalani operasi. Bagian kepalanya bahkan mendapat puluhan jahitan. Ia juga diduga mengalami gegar otak akibat penganiayaan tersebut.

Bagi keluarga, persoalan ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja. Ada seorang anak yang kini terbaring di rumah sakit akibat dugaan kekerasan yang bermula dari persoalan asmara.

Kepala Desa Babakan Mulya, Titin Kartini, mengaku geram sekaligus prihatin. Apalagi korban merupakan warganya sendiri.

“Keterlaluan, korban dianiaya parah. Operasinya kepalanya tadi sampai puluhan jahitan. Yang diserang banyak di kepala,” ungkap Titin Kartini, Sabtu (12/09/2026), saat dikonfirmasi InilahKuningan.

Titin memastikan persoalan tersebut tidak akan dibiarkan begitu saja.

Pemerintah Desa Babakan Mulya berencana memanggil KN bersama orang tuanya ke kantor desa. Pihak sekolah pelaku juga akan diundang untuk mengetahui persoalan tersebut dan meminta pertanggungjawaban atas dugaan tindakan yang dilakukan siswanya.

Pemanggilan itu nantinya akan melibatkan pihak kepolisian.

Sebab, berdasarkan informasi yang diterima pemerintah desa, dugaan penganiayaan tersebut bukan hanya dilakukan oleh satu orang.

Sejumlah teman pelaku disebut berada di lokasi ketika korban dianiaya.

Mereka bukan hanya menjadi saksi mata, tetapi juga diharapkan dapat membantu mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Balong Dalem sore itu.

Kini, satu pertanyaan besar menggantung:

Bagaimana mungkin persoalan cinta dan kecemburuan di kalangan remaja berubah menjadi kekerasan yang membuat seorang anak harus menjalani operasi kepala?

Kasus ini kembali menjadi alarm keras bagi orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar. Sebab ketika emosi remaja tak terkendali, persoalan yang awalnya mungkin hanya berupa rebutan perhatian seseorang bisa berubah menjadi luka serius—bahkan mengancam keselamatan jiwa.