MUI Kuningan Launching Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 Jam, Tanam Empat Pohon Kurma Penuh Makna Filosofis
KUNINGAN – Fokus Utama
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan bersama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Terjemah Al-Qur’an (LPPTQ) melaksanakan launching Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 Jam sekaligus penanaman empat pohon kurma di halaman Kantor MUI Kabupaten Kuningan, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Plt Asisten Daerah III Setda Kabupaten Kuningan yang mewakili Sekretaris Daerah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuningan, Ketua BAZNAS Kabupaten Kuningan, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Kuningan Hj. Rini Sarjono, Kabag Kesra Setda Kuningan, jajaran pengurus MUI, serta tamu undangan lainnya.
Ketua MUI Kabupaten Kuningan, Drs. KH. Dodo Syarif Hidayatullah, MA, menyampaikan bahwa penanaman pohon kurma tersebut bukan hanya untuk memperindah lingkungan kantor, tetapi memiliki nilai filosofis dan pesan keagamaan.
“Pohon kurma yang ditanam ada empat pohon. Ini bukan sekadar estetika, tetapi memiliki makna. Empat pohon ini menjadi simbol empat sahabat utama Rasulullah SAW, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib,” ungkapnya.
Menurutnya, filosofi empat sahabat tersebut juga menjadi simbol Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang telah berkembang dan mengakar di Indonesia sejak masuknya Islam ke Nusantara.
Empat pohon kurma yang ditanam merupakan hasil budidaya dari Pondok Pesantren Al-Azhar Ciwiru, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, yang dibibitkan dari biji oleh pimpinan pesantren KH. Bahrudin bersama para santrinya.
KH. Dodo menjelaskan, keberadaan pohon kurma yang mampu tumbuh subur bahkan berbuah di wilayah Kuningan menjadi bukti bahwa tanaman kurma dapat dikembangkan di Indonesia.
“Kalau ada anggapan kurma tidak bisa tumbuh dan berbuah di Indonesia, ternyata sudah terbukti. Di Pesantren Al-Azhar Ciwiru pohon kurma bisa tumbuh subur dan berbuah lebat,” jelasnya.
Ia berharap keberadaan pohon kurma di halaman Kantor MUI Kuningan menjadi sarana edukasi sekaligus membawa keberkahan bagi masyarakat.
“Ini kita niatkan sebagai ibadah dan mendekatkan tradisi kita dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan jika nanti berbuah, hasilnya dapat dinikmati umat dan masyarakat,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Dodo juga menjelaskan bahwa proses penanaman kurma memiliki nilai pembelajaran. Menurutnya, pohon kurma membutuhkan proses penyerbukan antara pohon jantan dan betina agar dapat menghasilkan buah yang sempurna.
“Kurma itu bisa berbuah di Indonesia. Hanya saja perlu diperhatikan proses penyerbukannya. Ada pohon jantan dan betina, sehingga nantinya menghasilkan buah yang baik,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat agar tidak membuang biji kurma yang dikonsumsi. Menurutnya, biji kurma dapat dibibitkan dengan cara sederhana hingga tumbuh menjadi tanaman baru.
“Biji kurma bisa direndam, kemudian ditumbuhkan hingga menjadi kecambah dan ditanam di polibag. Insyaallah bisa tumbuh,” ujarnya.
Sementara itu, empat pohon kurma yang ditanam berasal dari hibah Pondok Pesantren Al-Azhar Ciwiru sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan nilai keagamaan dan lingkungan di Kabupaten Kuningan.
Selain penanaman pohon kurma, kegiatan tersebut juga menjadi momentum peluncuran Program Terjemah Al-Qur’an Sistem 40 Jam yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami kandungan Al-Qur’an secara lebih mudah dan sistematis.
“Semoga program ini memberikan manfaat dan menjadi jalan bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an,” pungkas Ketua MUI Kabupaten Kuningan.
(Nia)




Tidak ada komentar: