FORMASI Soroti Dugaan Politisasi BAZNAS Kuningan: "BAZNAS Rasa KONI"

 


Kuningan– Fokus Utama 

Forum Masyarakat Sipil Independen (FORMASI) menyoroti proses pemilihan pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Kuningan yang dinilai sarat kepentingan politik dan berpotensi menggerus independensi lembaga pengelola dana umat tersebut.

Ketua FORMASI, Manap Suharnap, mengaku sejak awal pembukaan pendaftaran calon pimpinan BAZNAS dirinya sudah menduga siapa saja yang akan terpilih menjadi pimpinan lembaga tersebut.

"Saya pribadi sejak awal sudah mengetahui dan menduga bahwa yang akan menjadi pimpinan BAZNAS Kabupaten Kuningan adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan tim sukses Bupati saat Pilkada. Dugaan itu kini seolah menemukan pembenarannya," ujarnya.

Menurut Manap, diakui atau tidak, publik mengetahui bahwa unsur pimpinan BAZNAS yang terpilih saat ini merupakan figur-figur yang berada dalam lingkaran politik pendukung kepala daerah. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat terkait independensi proses seleksi yang dilakukan.

"Karena itu tidak mengherankan apabila muncul dugaan bahwa penempatan para pimpinan BAZNAS tersebut sudah by design dan merupakan bagian dari balas budi politik pasca Pilkada. Benar atau tidaknya dugaan itu, pemerintah daerah harus mampu menjawabnya secara terbuka dan transparan," tegasnya.

FORMASI menilai BAZNAS merupakan lembaga yang mengelola dana umat sehingga seharusnya berdiri di atas semua golongan dan tidak boleh terkesan menjadi alat kepentingan politik kelompok tertentu.

Lebih lanjut, Manap menyebut kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mulai menyebut BAZNAS Kabupaten Kuningan sebagai "BAZNAS rasa KONI". Istilah itu muncul karena adanya anggapan bahwa pola penempatan jabatan lebih didasarkan pada kedekatan politik dibandingkan profesionalisme dan kompetensi.

"Bahkan muncul celetukan di masyarakat bahwa BAZNAS ini seperti KONI yang mengakomodasi kelompok tertentu. Kalau persepsi seperti ini terus berkembang, tentu akan sangat berbahaya bagi tingkat kepercayaan publik terhadap pengelolaan zakat," katanya

FORMASI juga mengingatkan bahwa kepercayaan masyarakat merupakan modal utama BAZNAS. Apabila masyarakat kehilangan kepercayaan, maka penghimpunan zakat, infak, dan sedekah akan terdampak secara langsung.

Untuk itu FORMASI mendesak pemerintah daerah dan pimpinan BAZNAS yang baru terpilih agar membuktikan kinerjanya secara profesional, independen, transparan, dan bebas dari intervensi politik.

"BAZNAS bukan milik pemerintah, bukan milik partai politik, dan bukan pula tempat balas jasa politik. BAZNAS adalah milik umat yang harus dikelola secara amanah demi kepentingan masyarakat yang membutuhkan," pungkas Manap

(Bopih)

Tidak ada komentar:

 


Diberdayakan oleh Blogger.