Penulis Mulyadi Dan Bopih 



Maulid Nabi, Haul ke-75 Abah KH. Mutawally, dan Harlah ke-31 Al-Mutawally Menjadi Momentum Meneguhkan Akhlak Generasi

KUNINGAN – FOKUS UTAMA 

Zaman bergerak semakin cepat. Teknologi membuka pintu informasi nyaris tanpa batas. Dalam hitungan detik, kabar dari belahan dunia lain bisa masuk ke genggaman. Pengetahuan semakin mudah dicari, tetapi di balik kemudahan itu terselip tantangan yang tidak sederhana: bagaimana generasi muda tetap memiliki pegangan moral ketika derasnya informasi datang tanpa henti?

Pertanyaan itulah yang terasa relevan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Haul ke-75 Abah KH. Mutawally, sekaligus Hari Lahir ke-31 Pesantren Terpadu Al-Mutawally, yang digelar di Auditorium Pesantren Terpadu Al-Mutawally, Minggu (6/9/2026).

Bukan sekadar tiga agenda yang diperingati dalam satu waktu. Momentum tersebut menjadi ruang untuk kembali mengingat satu hal yang semakin penting di tengah perubahan zaman: ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah.

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi strategis dalam menjaga moral sekaligus membentuk karakter generasi masa depan.

Menurutnya, pendidikan agama dan penguasaan pengetahuan harus berjalan beriringan. Generasi muda tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki ketahanan spiritual dan akhlak yang kuat.

“Yang terpenting bukan seberapa meriah kita memperingatinya, tetapi seberapa jauh kecintaan kepada Rasulullah SAW mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Bupati Dian.

Maulid Bukan Sekadar Seremonial

Bagi Bupati Dian, Maulid Nabi Muhammad SAW semestinya tidak berhenti sebagai agenda tahunan yang hanya ramai pada hari pelaksanaannya. Lebih jauh dari itu, Maulid merupakan momentum untuk bercermin.

Sejauh mana kejujuran Rasulullah diteladani? Sejauh mana sifat amanah, kasih sayang, kesabaran, kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari?

Nilai-nilai tersebut, kata Dian, tetap relevan bukan hanya dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Sebab kemajuan sebuah daerah tidak semata-mata diukur dari jalan yang dibangun, gedung yang berdiri atau berbagai proyek fisik yang selesai. Di balik semua itu ada manusia yang menjadi penentu arah pembangunan.

“Pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan manusia,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi penting ketika pembangunan manusia dihadapkan pada tantangan zaman yang semakin kompleks.

Mengenang Abah, Menghidupkan Warisan. Di tengah peringatan Maulid, nama Abah KH. Mutawally kembali dikenang melalui Haul ke-75.

Haul bukan semata-mata mengenang seseorang yang telah berpulang. Lebih dari itu, haul adalah upaya menjaga agar ilmu, perjuangan dan nilai kebaikan yang pernah ditanamkan tidak ikut terkubur bersama waktu. Warisan seorang ulama bukan hanya tentang nama yang tercatat dalam sejarah.

Warisan itu hidup ketika ilmunya terus dipelajari, ketika nasihatnya diamalkan, ketika perjuangannya diteruskan dan ketika generasi setelahnya mampu membawa nilai-nilai tersebut menghadapi zaman yang berbeda.

Dalam konteks itulah keberadaan Pesantren Terpadu Al-Mutawally menjadi bagian penting dari kesinambungan perjuangan tersebut. Tiga puluh satu tahun bukan perjalanan yang singkat.

Selama lebih dari tiga dekade, pesantren telah menjadi ruang bertemunya ilmu, pendidikan, pembentukan karakter dan pengabdian kepada masyarakat.

Bupati Dian menyampaikan apresiasi kepada para kyai, ustadz dan ustadzah, pengelola pesantren, orang tua, alumni, masyarakat serta para santri yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Al-Mutawally.

Ia berharap pesantren tersebut semakin maju dan berkualitas serta terus melahirkan generasi yang alim, berilmu, mandiri dan berakhlakul karimah.

Ketika Dunia Digital Tak Lagi Mengenal Batas

Ada tantangan baru yang tidak bisa dihindari. Generasi muda hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Telepon genggam bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia telah berubah menjadi pintu menuju dunia yang nyaris tanpa batas. Informasi baik dan buruk datang dalam ruang yang sama.

Pengetahuan berdampingan dengan hoaks. Inspirasi bercampur dengan provokasi. Kreativitas berhadapan dengan budaya instan.

Di sinilah pesantren, menurut Bupati Dian, memiliki peran yang semakin penting.

Pesantren diharapkan bukan hanya menjadi tempat untuk mempelajari ilmu agama, tetapi juga menjadi benteng moral agar generasi muda mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri.

Generasi muda harus melek teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan etika.

Harus kreatif, tetapi tetap rendah hati. Harus mampu bersaing, tetapi tidak kehilangan kepedulian.

Dan yang paling penting, harus mampu membedakan mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang justru dapat menyesatkan.

Santri Harus Siap Menghadapi Zaman

Kepada para santri, Bupati Dian menitipkan pesan agar kesempatan belajar di pesantren tidak disia-siakan.

Belajar dengan sungguh-sungguh. Menghormati guru dan kyai. Menyayangi orang tua. Menjaga nama baik pesantren. Dan yang tidak kalah penting, mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

Namun santri juga dituntut untuk tidak menutup diri dari perkembangan zaman. Ilmu agama harus kuat. Pengetahuan dan teknologi juga harus dikuasai.

Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi membutuhkan manusia yang mampu menggunakan kepintarannya untuk memberikan manfaat.

“Jadilah manusia yang memberikan manfaat,” pesan Bupati Dian kepada para santri. Pesan sederhana, tetapi memiliki makna panjang.

Sebab dari pesantren, menurutnya, telah lahir banyak tokoh dengan beragam profesi: ulama, pendidik, pemimpin masyarakat, pengusaha, birokrat hingga cendekiawan.

Artinya, pesantren tidak berada di luar arus pembangunan.

Pesantren justru menjadi salah satu sumber kekuatan manusia yang akan menentukan wajah masa depan daerah.

Membangun Kuningan dari Manusianya

Bupati Dian juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pesantren, ulama, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, keluarga dan seluruh elemen masyarakat. Sebab membangun Kuningan bukan pekerjaan satu pihak.

Jalan dan infrastruktur memang penting. Ekonomi harus bergerak. Pelayanan publik harus semakin baik. Namun seluruh pembangunan tersebut akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi manusia yang beriman, berilmu dan memiliki akhlak.

Karena itu, pesantren diharapkan terus mengambil bagian dalam membangun sumber daya manusia Kuningan.

Bukan hanya mencetak generasi yang memahami agama, tetapi juga generasi yang mampu hidup berdampingan, menghargai perbedaan, memiliki kepedulian sosial dan siap menghadapi perubahan.

Tiga Momentum, Satu Pesan

Maulid Nabi Muhammad SAW, Haul ke-75 Abah KH. Mutawally dan Harlah ke-31 Pesantren Terpadu Al-Mutawally akhirnya bertemu dalam satu pesan besar. Menjaga iman. Memperkuat akhlak. Merawat ilmu. Dan menyiapkan generasi menghadapi zaman.

Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh informasi, pesantren diharapkan tetap menjadi tempat di mana anak-anak muda menemukan arah. Di tengah derasnya perubahan, pesantren diharapkan menjadi tempat mereka berpijak.

Dan di tengah persaingan kehidupan yang semakin keras, pesantren diharapkan mampu melahirkan manusia yang tidak hanya ingin menjadi hebat, tetapi juga bermanfaat bagi sesama.

Bupati Dian pun mengajak masyarakat Kuningan menjaga kehidupan yang aman, damai dan rukun. Perbedaan pilihan, latar belakang maupun pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh.

Karena pada akhirnya, pembangunan sebuah daerah tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk bergerak maju Ia juga membutuhkan hati yang mampu menjaga persaudaraan.

Dan di situlah pesantren diharapkan terus berdiri—menjadi benteng moral, penjaga nilai dan tempat lahirnya generasi Kuningan yang mampu melesat tanpa kehilangan akar.