KUNINGAN — FOKUS UTAMA
Biasanya warga yang harus mendatangi kantor pemerintah untuk mendapatkan pelayanan. Mengantre, menempuh perjalanan, meluangkan waktu, bahkan terkadang harus bolak-balik ketika persyaratan belum lengkap.
Namun, Selasa (8/9/2026), pemandangan itu berubah di Desa Subang, Kecamatan Subang.
Bukan warga yang berbondong-bondong menuju pusat pemerintahan. Justru pemerintah yang datang mendekati warga.
Lapangan Sepak Bola Desa Subang mendadak berubah menjadi pusat pelayanan publik. Berbagai layanan pemerintahan dibawa langsung ke tengah masyarakat melalui program “Bupati Saba Lembur”, bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kuningan.
Mengusung tema “Ngamumule Budaya, Ngamajukeun Lembur Pikeun Kuningan Melesat”, kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan Sinergi Integritas Pelayanan Publik (SIPP) ke-26.
Sejak pagi, warga sudah memadati lokasi. Mereka datang bukan sekadar untuk menyaksikan acara, tetapi benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan berbagai urusan pelayanan yang selama ini mengharuskan mereka datang ke pusat kota.
Di tengah kerumunan warga itu, Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., hadir bersama Sekretaris Daerah U. Kusmana, S.Sos., M.Si. Sejumlah kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, Ketua DWP, serta undangan lainnya turut hadir.
Ketika Dinas Datang Menjemput Warga
Program Bupati Saba Lembur bukan sekadar memindahkan meja pelayanan dari kantor ke lapangan.
Di balik konsep jemput bola tersebut, ada pesan sederhana: pelayanan pemerintah harus semakin dekat, mudah dijangkau, dan benar-benar dirasakan masyarakat.
“Ya, hari ini kita melaksanakan program Bupati Saba Lembur mengintegrasikan layanan-layanan yang menjadi kebutuhan masyarakat selama ini, kita jemput bola ke desa yang bersangkutan. Dan alhamdulillah saya lihat program Bupati Saba Lembur ini dari mulai pagi sampai siang hari ini mendapat animo atau respon yang sangat antusias dari masyarakat,” ujar Bupati Dian.
Antusiasme itu terlihat dari membludaknya kunjungan warga ke berbagai stan pelayanan.
Masyarakat dapat mengurus administrasi kependudukan melalui Disdukcapil, memperoleh pemeriksaan kesehatan gratis dari Dinas Kesehatan, mendapatkan pelayanan keluarga berencana melalui DPPKBP3A, hingga menyampaikan pengaduan melalui SP4N-LAPOR! dan LAPOR Kuningan Melesat yang dikelola Diskominfo.
Tidak berhenti di sana. Ada pula pelayanan perizinan dari DPMPTSP, layanan PBB-P2 dari Bappenda, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hingga pasar murah yang digelar Diskopdagperin dengan menyediakan berbagai bahan kebutuhan pokok berharga terjangkau.
Dengan demikian, satu lapangan bisa menjadi tempat warga mengurus banyak kebutuhan sekaligus.
Tak perlu jauh-jauh menuju ibu kota kabupaten. Tak perlu meninggalkan kampung terlalu lama. Pemerintah datang ke lembur.
Bukan Sekadar Pelayanan
Bagi Bupati Dian, Saba Lembur memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pelayanan administratif.
Program tersebut menjadi ruang perjumpaan langsung antara pemerintah dengan masyarakat. Di sana, persoalan warga dapat didengar, keluhan dapat disampaikan, dan aspirasi dapat ditangkap tanpa harus selalu melalui meja birokrasi.
“Saya tanya rata-rata mereka merasa terbantu karena pelayanan yang mereka biasanya datang ke ibu kota, ke dinas, sekarang dinasnya yang menjemput bola. Karena ini bukan hanya sekedar pelayanan saja, tapi sebagai sarana silaturahmi juga menangkap aspirasi,” kata Bupati Dian.
Kalimat itu menjadi salah satu inti dari Saba Lembur: pemerintah bukan hanya hadir untuk melayani, tetapi juga untuk mendengar.
Sebab pembangunan tidak akan pernah benar-benar sampai kepada masyarakat apabila pemerintah hanya melihat dari balik meja kantor.
Warga Tak Lagi Harus Jauh-Jauh
Manfaat program itu dirasakan langsung warga.
Ading (46), warga Desa Subang, mengaku sangat terbantu karena dapat mengakses berbagai pelayanan publik tanpa harus pergi jauh ke pusat kota.
“Merasa terbantu dengan adanya program Bupati Saba Lembur dengan bisa mendapat berbagai pelayanan publik. Selain itu bisa mendapatkan penjelasan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah melalui SP4N-LAPOR! dan Lapor Kuningan Melesat yang dikelola Diskominfo,” ungkap Ading.
Hal serupa dirasakan Iyus (28), warga Desa Jalatrang, Kecamatan Cilebak.
Bagi Iyus, Saba Lembur memberikan pengalaman berbeda. Datang ke lokasi bukan hanya untuk mengurus pelayanan, tetapi sekaligus menikmati hiburan yang disiapkan pemerintah.
“Merasa terhibur dan terbantu dengan adanya Bupati Saba Lembur, karena selain mendapatkan hiburan juga bisa mendapatkan pelayanan tanpa harus jauh ke kota,” tuturnya.
Dua kesaksian warga itu menggambarkan wajah pelayanan yang ingin dibangun: mudah, dekat, dan hadir di tengah kehidupan masyarakat.
Pelayanan Bertemu Pemberdayaan
Menariknya, Saba Lembur di Subang tidak hanya berbicara mengenai pelayanan pemerintah.
Di antara stan pelayanan publik, tumbuh pula denyut ekonomi masyarakat desa.
Deretan stan UMKM lokal ikut meramaikan kegiatan. Produk-produk unggulan Kecamatan Subang dipamerkan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Ada kopi, gula aren, wajit Subang, serta berbagai produk lokal potensial lainnya.
Ruang pelayanan pun berubah menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha kecil.
Pemerintah datang membawa pelayanan, sementara masyarakat membawa potensi daerahnya.
Di titik inilah Saba Lembur tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, dan promosi potensi desa dipertemukan dalam satu ruang.
Dari Pelayanan, Berujung Panggung Budaya
Memasuki siang hingga sore hari, wajah Saba Lembur kembali berubah.
Setelah urusan pelayanan dan aktivitas UMKM berlangsung, perhatian warga mulai diarahkan pada kekayaan seni dan budaya lokal.
Kesenian khas Subang, Kampung Dongeng, serta panggung hiburan rakyat turut mewarnai jalannya kegiatan.
Suasana menjadi semakin meriah.
Desa bukan hanya diposisikan sebagai penerima pelayanan, tetapi juga sebagai pemilik kekayaan budaya yang layak ditampilkan dan diapresiasi. Dan perayaan belum selesai.
Puncak Saba Lembur di Desa Subang akan berlangsung hingga malam hari melalui gelaran seni budaya yang secara khusus menghadirkan seniman Sunda ternama, Kang Ohang dan Ceu Popon.
Dari pagi hingga malam, lapangan sepak bola Desa Subang menjadi saksi bagaimana pelayanan, silaturahmi, ekonomi kerakyatan, dan budaya dapat berjalan dalam satu panggung.
Pemerintah yang Turun ke Lembur
Pada akhirnya, kekuatan Bupati Saba Lembur bukan semata-mata terletak pada banyaknya stan pelayanan atau ramainya hiburan.
Lebih jauh, program ini memperlihatkan sebuah pola bahwa pembangunan tidak harus selalu dimulai dari pusat pemerintahan.
Ia bisa dimulai dari desa.
Dari lapangan sepak bola.
Dari meja pelayanan sederhana.
Dari percakapan antara warga dengan pemerintah.
Dari secangkir kopi produk lokal.
Dari kesenian yang diwariskan para leluhur.
Dan dari keberanian pemerintah untuk datang, menyapa, mendengar, sekaligus melayani masyarakat secara langsung.
Melalui sinergi pelayanan publik, pemberdayaan UMKM, dan pelestarian budaya, momentum Hari Jadi ke-528 Kuningan di Desa Subang akhirnya tidak berhenti sebagai perayaan.
Ia menjadi gambaran tentang bagaimana pemerintah berusaha menghadirkan pembangunan lebih dekat dengan rakyat.
Dari lembur untuk Kuningan. Dari warga untuk Kuningan. Menuju Kuningan Melesat.




























0 Komentar