Penulis Bopih


KUNINGAN –  FOKUS UTAMA 

Minggu itu, Kampung Pahing RT 14, Desa Padarek, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, tidak sekadar ramai. Jalan kampung berubah menjadi ruang kebersamaan. Senyum, lantunan doa, dan pakaian muslim warga berpadu dalam sebuah tradisi yang sarat makna: Pawai Momolo.

Dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga anak-anak, warga berjalan dan mengikuti arak-arakan dengan penuh antusias. Di atas kendaraan bak terbuka, sebuah replika masjid dihias sedemikian rupa, menjadi pusat perhatian sepanjang perjalanan.

Kain kuning membalut kendaraan. Bendera Merah Putih dan umbul-umbul berkibar diterpa angin. Di tengah cuaca yang cerah, rombongan bergerak membawa satu pesan sederhana, tetapi dalam: syukur atas berdirinya sebuah rumah ibadah yang kelak menjadi bagian penting dari kehidupan warga.

Pawai Momolo tersebut digelar sebagai bentuk syukuran atas peletakan kubah Mushola Baiturahman.

Bagi warga Kampung Pahing, kubah yang mulai berdiri bukan sekadar bagian dari bangunan. Ia menjadi simbol perjalanan panjang sebuah mushola yang dibangun dari semangat kebersamaan dan gotong royong.

Di balik bangunan yang perlahan menemukan bentuknya, ada tangan-tangan warga yang ikut membantu. Ada tenaga yang disumbangkan, waktu yang diluangkan, serta doa yang terus dipanjatkan agar pembangunan berjalan lancar.

Karena itu, ketika kubah akhirnya diletakkan, rasa syukur pun tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa bersama. Warga memilih turun ke jalan, menggelar Pawai Momolo sebagai ungkapan kegembiraan sekaligus harapan.

Dari Jalan Kampung, Doa Dikirimkan

Sepanjang rute pawai, warga yang tidak ikut dalam rombongan tampak berdiri di pinggir jalan. Sebagian menyaksikan dengan senyum, sebagian lainnya ikut memberikan doa.

Suasana tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan Mushola Baiturahman bukan hanya urusan panitia atau warga yang terlibat langsung. Rumah ibadah itu perlahan menjadi milik bersamatempat yang diharapkan kelak menjadi ruang untuk salat, mengaji, belajar agama, dan mempererat silaturahmi masyarakat.

Anak-anak yang ikut dalam pawai pun seolah mendapatkan pelajaran langsung tentang arti kebersamaan. Bahwa membangun rumah ibadah bukan hanya tentang semen, pasir, bata, dan kubah, tetapi juga tentang kepedulian dan gotong royong.

Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, pemandangan warga berjalan bersama seperti ini menjadi sesuatu yang istimewa.

Tidak ada sekat antara tua dan muda. Semua larut dalam satu kegiatan dengan tujuan yang sama.

Kubah Itu Menjadi Simbol Harapan

Peletakan kubah menjadi salah satu tahapan penting pembangunan Mushola Baiturahman. Namun bagi warga RT 14, momen tersebut justru menjadi awal dari harapan yang lebih besar.

Mereka ingin mushola itu segera rampung dan dapat digunakan secara maksimal oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, ini bentuk syukur kami warga RT 14. Semoga dengan peletakan kubah ini, Mushola Baiturahman cepat rampung dan jadi pusat ibadah serta syiar Islam di Kampung Pahing,” ujar salah satu panitia.

Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja keras panitia yang diketuai oleh Balkim, Narayan, dan Alpi, bersama dukungan masyarakat.

Pawai Momolo akhirnya bukan hanya menjadi tontonan yang meriah. Ia menjadi cerita tentang bagaimana sebuah kampung merawat kebersamaan.

Tentang warga yang masih mau berjalan bersama. Tentang anak-anak yang belajar dari tradisi.

Dan tentang sebuah kubah yang berdiri di atas mushola—seolah menjadi penanda bahwa ketika masyarakat bergerak dengan semangat gotong royong, sebuah harapan perlahan bisa berubah menjadi kenyataan.

Dari Kampung Pahing, sebuah pesan sederhana kembali terdengar: rumah ibadah bukan hanya dibangun dengan material, tetapi juga dengan keikhlasan, persaudaraan, dan doa masyarakatnya.