Penulis Indrya Purnamasari 


KUNINGAN– FOKUS UTAMA 

Secangkir kopi mungkin hanya habis dalam beberapa tegukan.

Tetapi untuk menghasilkan secangkir kopi yang berkualitas, ada perjalanan panjang yang dimulai dari tanah, hujan, tangan petani, kebun di lereng Ciremai, proses pascapanen, roasting, hingga akhirnya sampai ke meja penikmat kopi.

Di situlah persoalan besar Kopi Kuningan berada.

Bukan pada apakah kopinya enak. Tetapi apakah potensi besar itu benar-benar mampu mengubah nasib petaninya?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika Kabupaten Kuningan menggelar **Kuningan Kopi Festival 2026 atau Ciremai Coffee Culture Festival**, 4–6 September 2026, sebagai bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-528 Kuningan.

Festival dipusatkan di Pandapa Paramarta, Kompleks Stadion Mashud Wisnusaputra. Puluhan stan berdiri, barista beraksi, kopi diseduh, aroma roasting memenuhi udara, sementara para pelaku usaha bertemu dan memperkenalkan produk.

Tetapi di balik kemeriahan itu tersimpan ambisi yang jauh lebih besar.

Kuningan ingin kopi tidak berhenti menjadi komoditas. Kuningan ingin kopi menjadi kekuatan ekonomi.

Dan jalan menuju ke sana ternyata tidak pendek. Kopi Bukan Lagi Komoditas “Kaleng-Kaleng”

Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., secara terang-terangan menyebut kopi bukan lagi komoditas kecil.

Produksi kopi Kuningan yang sebelumnya sekitar 775 ton pada 2023 meningkat menjadi sekitar 1.236 ton dalam kurun satu tahun.

Angka itu menunjukkan satu hal: kopi Kuningan sedang tumbuh.

Namun pertumbuhan produksi belum otomatis berarti kesejahteraan petani ikut tumbuh.


Di sinilah tantangan sesungguhnya.

Bupati Dian bahkan mengungkapkan pernah ada permintaan buyer internasional hingga 30 ton kopi Arabika. Tetapi permintaan tersebut belum mampu dipenuhi karena persoalan kapasitas dan permodalan.

Situasinya cukup ironis.

Pasar mulai mengetuk pintu, tetapi Kuningan belum sepenuhnya siap membukanya.


Ada kopi.

Ada lahan.

Ada petani.

Ada permintaan.

Tetapi apakah produksinya cukup? Apakah kualitasnya konsisten? Apakah pasokannya berkelanjutan? Apakah kelembagaannya kuat?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sekarang harus dijawab.

“Kopi bukan komoditas kaleng-kaleng,” tegas Dian.

Pernyataan itu menjadi semacam tantangan bagi seluruh ekosistem kopi Kuningan.


Pasarnya Sudah Menunggu

Peluang pasar sebenarnya bukan cerita kosong. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Renganis, menyebut kopi dari Kuningan dan sekitarnya memiliki potensi besar menjadi pengungkit ekonomi daerah.

Secara historis, kopi dari wilayah Karesidenan Cirebon, termasuk Kuningan, telah memiliki perjalanan panjang hingga pasar mancanegara.

Kini sejarah itu hendak diulang dengan strategi yang lebih modern.

Bank Indonesia ikut mendampingi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang wilayahnya meliputi Kuningan dan Majalengka.

Pendampingan dilakukan dari hulu hingga hilir.

Produktivitas diperbaiki.

Mutu ditingkatkan.

Kualitas didorong.

Pasar diperluas.

Bahkan kopi Kuningan telah dibawa ke World of Coffee di Bangkok

Pesannya sederhana tetapi penting:

Kopi Ciremai layak berdiri di panggung dunia.

Namun tampil di panggung internasional tentu berbeda dengan sekadar membawa sampel kopi ke sebuah pameran.

Dunia membutuhkan suplai.

Dunia membutuhkan standar.

Dunia membutuhkan konsistensi.

Dan di sinilah pekerjaan rumah Kuningan belum selesai.


1.500 Hektare, Jangan Sampai Hanya Jadi Angka

Kuningan memiliki potensi lahan kopi sekitar 1.500 hektare.

Arabika.

Robusta.

Liberika.

Semuanya menjadi bagian dari potensi kopi daerah.

Namun luas lahan tidak otomatis menjadikan sebuah daerah sebagai pemain besar.

Tanpa manajemen, konsolidasi, teknologi, akses modal dan pasar, lahan luas hanya akan menjadi angka dalam laporan.

Bupati Dian memahami persoalan itu. Menurutnya, Kuningan tidak perlu memulai dari nol.

Kebun sudah ada.

Petani sudah ada.

Tanaman sudah ada.

Yang dibutuhkan adalah konsolidasi.

Petak-petak lahan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri harus mulai dipandang sebagai satu kekuatan ekonomi.

Dari kebun yang tercerai-berai menjadi ekosistem yang terkoneksi.


Jangan Sampai Harga Kopi Naik, Petani Justru Tetap Miskin

Di sinilah pernyataan Bupati Dian menjadi salah satu pesan paling penting dalam festival. Ia mengingatkan agar kenaikan nilai kopi tidak justru membuat petani semakin tertinggal.

“Jangan sampai harga kopi semakin tinggi di pasar, kesejahteraan petani semakin melorot ke bawah,” tegasnya.

Kalimat tersebut layak menjadi alarm. Sebab dalam rantai komoditas, petani sering berada di posisi paling awal sekaligus paling rentan.

Mereka menanam.

Mereka merawat.

Mereka menunggu panen.

Tetapi nilai tambah terbesar bisa saja justru dinikmati oleh mata rantai setelah hasil panen meninggalkan kebun.

Karena itu, jika Kuningan benar-benar ingin membangun industri kopi, petani harus ditempatkan di tengah cerita.


Bukan sekadar sebagai pemasok biji kopi.

Petani harus menjadi penerima manfaat utama dari kebangkitan kopi Kuningan.

Indikasi Geografis: Bukan Sekadar Nama

Festival juga mencatat langkah penting melalui penandatanganan SK Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) bersama antara Pemerintah Kabupaten Kuningan, Pemerintah Kabupaten Majalengka dan Bank Indonesia.


Langkah tersebut memperkuat upaya perlindungan identitas Kopi Ciremai.

Sebab kopi bukan hanya soal rasa.

Ada tanah tempat ia tumbuh.

Ada iklim.

Ada ketinggian.

Ada proses.

Ada tradisi.

Ada karakter.

Semua itu membentuk identitas. Bupati Dian ingin kopi khas Kuningan memiliki karakter yang melekat.

“Kopi khas Kuningan itu harus melekat, ada karakter tersendiri, ada keunikan tersendiri,” ujarnya.

Artinya, ketika seseorang di luar negeri menikmati kopi Ciremai, yang terbayang bukan hanya rasa kopi. Tetapi juga Kuningan.


Festival Boleh Meriah, Tetapi Ukurannya Harus Setelah Panggung Dibongkar

Kuningan Kopi Festival menghadirkan 75 stan serta berbagai kegiatan: sarasehan kopi, public cupping, workshop penyangraian, lomba tarung seduh, business matching, klinik kemasan dan legalitas UMKM hingga lomba barista.

Semua terlihat menarik. Tetapi keberhasilan festival tidak semestinya diukur dari seberapa ramai pengunjung datang.

Ukuran sebenarnya justru muncul setelah festival berakhir.

Berapa UMKM yang mendapatkan akses pasar?

Berapa petani yang memperoleh kepastian pembelian?

Berapa kerja sama bisnis yang benar-benar terjadi?

Berapa produk yang naik kelas?

Dan yang paling penting: berapa besar tambahan pendapatan yang akhirnya masuk ke kantong petani?

Jika pertanyaan itu bisa dijawab, barulah festival memiliki arti ekonomi.


Anak Muda Jangan Hanya Jadi Penikmat Kopi

Kopi juga sedang membuka ruang baru bagi generasi muda.

Mereka tidak harus selalu berdiri di kebun.

Mereka bisa menjadi barista.

Roaster.

Pengusaha.

Desainer kemasan.

Pemasar digital.

Eksportir.

Bahkan membangun merek kopi sendiri.

Inilah perubahan besar dalam ekosistem kopi.

Dari hulu ke hilir terdapat ruang ekonomi yang panjang.

Dan Kuningan memiliki kesempatan untuk mengisinya dengan anak-anak mudanya sendiri.

Bukan hanya menjual biji kopi. Tetapi menjual cerita tentang Ciremai.

Kenandra Kopi: Bukan Sekadar Menjual Secangkir Kopi


Bugi dari Kenandra Kopi melihat festival sebagai ruang penting bagi pelaku usaha kopi lokal untuk membangun jaringan. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar tempat menjual produk.

Ada pertemuan.

Ada pertukaran pengalaman.

Ada relasi.

Ada peluang bisnis.

Dan ada kesempatan untuk memperkenalkan kopi Kuningan kepada pasar yang lebih luas.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pelaku usaha lokal membutuhkan ruang yang berkelanjutan, bukan hanya event sesaat.

Karena membangun merek kopi tidak selesai dalam tiga hari festival.

Membangun pasar membutuhkan waktu. Membangun kepercayaan membutuhkan konsistensi.

Dan membangun industri membutuhkan keberanian untuk terus bergerak setelah sorotan kamera pergi.

Dari Ciremai untuk Dunia

Pada akhirnya, Kuningan sedang berada di persimpangan.

Di satu sisi, potensi kopi semakin jelas.

Produksi meningkat.

Lahan tersedia.

Jenis kopi beragam.


Pelaku usaha tumbuh.

Pasar internasional mulai membuka peluang. Di sisi lain, persoalan klasik masih membayangi: produktivitas, kualitas, kontinuitas, permodalan, kelembagaan dan kesejahteraan petani.

Karena itu, Kuningan Kopi Festival 2026 seharusnya tidak berhenti sebagai festival.

Ia harus menjadi titik awal. Titik ketika pemerintah tidak lagi sekadar mempromosikan kopi, tetapi membangun ekosistemnya. Titik ketika petani tidak hanya menjual hasil kebun, tetapi memperoleh posisi tawar.

Titik ketika UMKM tidak hanya ikut pameran, tetapi memperoleh pasar. Dan titik ketika anak muda melihat kopi bukan sekadar minuman, melainkan masa depan.


Bupati Dian punya mimpi besar.

Ia ingin kebun-kebun kopi di lereng Ciremai, wilayah selatan, barat dan utara Kuningan menembus pasar internasional. Ia ingin aroma kopi Kuningan sampai ke meja-meja kafe di berbagai belahan dunia.

“Saya ingin Kuningan terangkat harumnya bersama aroma kopinya,” ujarnya.

Mimpi itu terdengar besar. Tetapi Kuningan sudah memiliki modal awal.

Tanahnya ada. Kopinya ada. Petaninya ada. Pasarnya mulai terbuka.

Yang belum boleh hilang adalah keberanian untuk mengelolanya secara serius. Sebab pada akhirnya, dunia tidak akan mengenal Kuningan hanya karena sebuah festival.

Dunia akan mengenal Kuningan ketika Kopi Ciremai memiliki kualitas, karakter, kontinuitas, pasar dan cerita yang tidak bisa ditiru daerah lain.

Dan ketika itu terjadi, secangkir kopi tidak lagi sekadar minuman.

Ia menjadi cara Kuningan memperkenalkan dirinya kepada dunia.


Dari Ciremai.

Dari tangan petani.

Dari secangkir kopi.

Menuju global.