JAKARTA – FOKUS UTAMA
Perubahan wajah pendidikan Indonesia sedang bergerak cepat. Sekolah tak lagi cukup hanya memiliki gedung yang berdiri kokoh. Di tengah tuntutan zaman, ruang kelas harus semakin adaptif, guru dituntut semakin kompeten, dan teknologi harus mampu masuk ke dalam proses pembelajaran.
Di tengah agenda besar itu, Kabupaten Kuningan ikut mengambil bagian. Kepala Bidang Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Surya, S.Pd., M.M., menghadiri Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah (Rakornas) Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) di Jakarta, 3–5 September 2026.
Rakornas yang diikuti perwakilan Dinas Pendidikan dari seluruh Indonesia tersebut bukan sekadar forum koordinasi rutin. Di balik agenda pertemuan pusat dan daerah itu, terdapat pekerjaan besar: bagaimana memastikan sekolah mampu mengejar perubahan dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.
Ketika Sekolah Dituntut Berubah
Revitalisasi satuan pendidikan menjadi salah satu agenda utama yang dibahas. Persoalannya bukan semata-mata memperbaiki bangunan sekolah. Revitalisasi harus dibaca sebagai upaya membangun ekosistem pendidikan yang lebih layak, aman dan mendukung proses belajar peserta didik. Karena sekolah yang baik bukan hanya sekolah dengan gedung yang bagus.
Di dalamnya harus ada guru yang terus berkembang, fasilitas pembelajaran yang memadai, serta sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan generasi baru.
Karena itu, peningkatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam agenda Rakornas tersebut.
Guru berada di garis depan perubahan. Ketika teknologi berkembang begitu cepat, kemampuan guru untuk menggunakannya secara tepat dalam pembelajaran menjadi semakin penting.
Digitalisasi Tak Boleh Berhenti di Perangkat
Digitalisasi pembelajaran juga menjadi perhatian utama.
Era digital membawa peluang besar bagi dunia pendidikan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan. Perangkat teknologi tidak akan banyak berarti jika tidak diikuti kemampuan sekolah dan guru dalam menggunakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Karena itu, digitalisasi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat proses belajar—bukan sekadar mengejar label sekolah digital.
Inilah salah satu tantangan yang harus diterjemahkan pemerintah daerah dari kebijakan nasional menjadi program yang benar-benar terasa manfaatnya di sekolah.
Surya dan Pekerjaan Rumah Kuningan
Kehadiran Surya di forum nasional tersebut menjadi bagian dari upaya Disdikbud Kabupaten Kuningan untuk terus mengikuti arah kebijakan pemerintah pusat.
Bagi Kuningan, forum ini sekaligus menjadi kesempatan untuk menyerap berbagai strategi mengenai revitalisasi sarana dan prasarana, peningkatan kompetensi guru, serta implementasi digitalisasi pembelajaran di satuan pendidikan.
Pekerjaan berikutnya justru berada di daerah.
Bagaimana hasil Rakornas itu diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah konkret bagi sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Kuningan.
Sebab, keberhasilan sebuah program pendidikan pada akhirnya tidak diukur dari seberapa banyak rapat yang digelar, melainkan dari **seberapa besar perubahan yang dirasakan guru dan peserta didik di sekolah.
Menyiapkan Sekolah Kuningan Menghadapi Abad ke-21
Pemkab Kuningan menargetkan sekolah-sekolah dasar di wilayahnya semakin siap menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21 melalui program revitalisasi dan digitalisasi. Target tersebut tentu membutuhkan kerja bersama.
Pemerintah harus memastikan dukungan kebijakan dan infrastruktur. Sekolah harus siap melakukan perubahan. Guru harus terus meningkatkan kompetensi. Dan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat pembelajaran.
Dari Jakarta, agenda itu kembali dibawa ke Kuningan.
Bukan sekadar membawa hasil rapat, tetapi membawa pesan bahwa perubahan pendidikan harus dimulai dari sekarang.
Sebab, jika sekolah ingin menyiapkan anak-anak Kuningan menghadapi masa depan, maka sekolahnya sendiri harus lebih dulu berani berubah.
Rakornas mungkin berlangsung tiga hari. Tetapi pekerjaan rumah pendidikan Kuningan setelahnya jauh lebih panjang.
(Bopih)




























0 Komentar