Jembatan Tentara Pelajar Batalyon 400 Brigade XVII di Desa Cijemit, Kecamatan Ciniru, Kembali Berfungsi.

 


KUNINGAN – FOKUS UTAMA 

Setelah sempat terputus akibat kerusakan serius karena abrasi sungai, Jembatan Tentara Pelajar Batalyon 400 Brigade XVII di Desa Cijemit, Kecamatan Ciniru, kini kembali berfungsi. Infrastruktur vital yang menghubungkan Desa Cijemit, Gunung Manik, dan Pinara itu diresmikan penggunaannya oleh Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., Rabu (17/6/2026).

Perbaikan jembatan dilakukan Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan anggaran mencapai Rp2 miliar. Kerusakan yang terjadi akibat abrasi sungai sempat mengancam fondasi dan penyangga jembatan hingga berpotensi memutus akses transportasi masyarakat di wilayah timur Kabupaten Kuningan.

Pada kesempatan itu hadir, Wakil Bupati Kuningan Tuti Andriani, S.H., M.Kn., Sekda U. Kusmana, S.Sos., M.Si. Kepala DPUTR , BPBD, Danramil, Kapolsek dan para kepala desa. Peresmian tersebut disambut antusias masyarakat yang selama berbulan-bulan harus menghadapi keterbatasan akses akibat kerusakan jembatan.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekjerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Kuningan, Tedy Bisma, menjelaskan rehabilitasi Jembatan Tentara Pelajar Batalyon 400 Brigade XVII telah selesai dilaksanakan dan kini dapat digunakan kembali oleh masyarakat.

“Kerusakan terjadi akibat abrasi sungai yang terus menggerus pondasi dan struktur penyangga jembatan. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera karena menjadi akses utama masyarakat untuk berbagai aktivitas,” jelasnya.

Kepala Desa Cijemit, Wawan kuswara, mengatakan jembatan yang dibangun pada 1990 tersebut merupakan urat nadi mobilitas warga, baik untuk kegiatan pendidikan, ekonomi, maupun akses pelayanan publik.

Menurutnya, kerusakan mulai terdeteksi pada April 2025 ketika muncul retakan pada badan jembatan. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya patah pada Desember 2025 dan harus ditutup total demi keselamatan masyarakat.

“Alhamdulillah, berkat perhatian dan dukungan Pemerintah Kabupaten Kuningan, proses perbaikan dapat dilaksanakan dan selesai pada Juni 2026. Atas nama masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati dan seluruh jajaran pemerintah daerah,” ujarnya.

Dalam peresmian tersebut, Bupati Dian mengatakan bahwa keberadaan jembatan bukan sekadar sarana transportasi, melainkan simbol keterhubungan dan harapan masyarakat.

“Hari ini kita bukan sekadar meresmikan sebuah jembatan. Kita meresmikan harapan, meresmikan keterhubungan antara hari ini dan masa depan. Jembatan ini menjadi simbol bahwa masyarakat tidak boleh terpisah oleh jarak, perbedaan, ataupun hambatan yang ada,” kata Dian.

Ia mengajak masyarakat menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan sebagaimana proses pembangunan yang telah dilakukan.

“Jembatan ini mengajarkan kepada kita bahwa sesulit apapun persoalan yang dihadapi, jika dilakukan bersama-sama maka akan lebih mudah diselesaikan. Mari kita rawat semangat kebersamaan ini sebagaimana kita merawat jembatan yang telah dibangun,” ujarnya.

Bupati Dian juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan agar pembangunan yang telah dilakukan tidak kembali terdampak bencana.

“Alam akan menjadi sahabat jika kita menjaganya. Sebaliknya, jika kita abai, alam dapat menjadi ancaman bagi kehidupan kita sendiri. Karena itu, menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Selain meresmikan jembatan, Bupati Dian mengajak masyarakat untuk turut menjaga dan merawat hasil pembangunan yang telah dibiayai dari uang rakyat 

“Ini dibangun dari uang rakyat dan untuk kepentingan rakyat. Maka sudah sepatutnya kita jaga bersama agar keberadaannya terus memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang,” tuturnya.

Apresiasi setinggi-tingginya diberikan Bupati kepada seluruh pihak yang berpeluh keringat dalam proses rekonstruksi. Mulai dari jajaran Pemerintah Desa Cijemit, Forkopimcam Ciniru, dukungan legislatif di DPRD, hingga kerja keras teknis dari Dinas PUTR, BPBD, dan para pelaksana dan masyarakat di lapangan yang terus bekerja meski di tengah keterbatasan.

Salah seorang warga Desa Cijemit, Teti (48), mengaku bersyukur karena akses utama masyarakat kini kembali normal.

“Alhamdulillah ayeuna parantos sae deui. Reugreug bangunanna mani wengkuh. Langkung tenang upami lewat jembatan. Mugi awét sareng tiasa ngadukung kegiatan warga sapopoe,” katanya.

Prosesi peresmian ditutup dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita. Yang menarik, momen ini juga dibarengi dengan doa bersama menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah dan Ngobeng Ikan Sebuah bentuk syukur atas hadirnya kembali jembatan yang telah lama dinanti, simbol baru bagi persatuan dan kemajuan warga Kuningan

(Nia/Bopih)

Tidak ada komentar:

 


Diberdayakan oleh Blogger.